Jumat, 12 November 2010

Menghafal Sejarah, Siswa Dapat Apa?

0 komentar


Guru-guru sejarah menyatakan keprihatinannya terhadap kurikulum pendidikan sejarah Indonesia yang dinilai terlalu padat. Materi-materi yang disampaikan hendaknya materi yang esensial.

Demikian terungkap dalam Diskusi Publik Nasional: Mengkaji Ulang Peranan Pendidikan Sejarah, Jumat (12/11/2010), di Gedung Kementrian Pendidikan Nasional, Jakarta. Diskusi tersebut diselenggarakan oleh Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) dan Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).

"Esensial dimaksudkan adalah materi yang dimengerti oleh siswa untuk membangun nilai-nilai bangsa," ujar Ratna Hapsari, Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia.

Sebagai contoh, kata Ratna, pada materi sejarah zaman Majapahit toleransi antaragama semestinya bisa dipelajari dan diambil nilai-nilai positif untuk dibangun pada anak didik. Namun, sekarang ini pelajaran sejarah terbelenggu olah kurikulum yang linear, yaitu bersifat menghafal.

"Setiap sejarah di Indonesia seharusnya dimaknai, dibenahi dan dikembangkan lewat suatu metode diskusi, misalnya siswa harus bisa mempresentasikan apa yang didapatnya dari materi tersebut," lanjut Ratna.

Lebih lanjut Ratna mengatakan, metode pembelajaran bisa dikembangkan melalui pelatihan secara intensif, berkesinambungan, dan yang terpenting harus memiliki kontrol. Ia mengatakan, pelatihan selama berbulan-bulan yang tanpa feed back bagi anak didik pada akhirnya hanya akan mengembalikan metode pembelajaran secara hafalan.

Grace Leksana, Staf Program Pendidikan ISSI, mengatakan telah terjadi kekacauan pada masyarakat dalam memandang sejarahnya sendiri. Pelajaran sejarah saat ini hanya mempelajari sejarah orang-orang besar atau orang-orang dari kancah politik sehingga kita hanya akan menghafal nama, tanggal, dan pahlawan.

"Untuk itu sejarah sosial sangat penting untuk dipelajari. Kita bisa merubah perspektif dengan masuk lewat jalur pendidikan. Coba lihat, sejak SD sampai SMA materi sejarah yang disampaikan itu sama, sehingga siswa mengalami kebosanan," papar Grace.

Untuk itu, kata dia, apapun caranya minat anak didik terhadap sejarah harus dibangkitkan kendati pembelajaran sejarah yang ideal saat ini masih jauh dari harapan, baik berupa sarana pembelajaran maupun pengembangan sumber daya manusia (guru) sejarahnya.


Sumber : Kompas

Leave a Reply