
Komnas Pengendalian Tembakau meminta Pemerintah tegas dalam mengendalikan tembakau, terutama dalam hal penjualan.
Ketua Komnas Pengendalian Tembakau Farid Anfasa Moeloek, saat ditemui seusai menghadap wakil Presiden Boediono di Istana wakil Presiden mengatakan, bahwa pengendalian tembakau sangat penting dikarenakan ada kandungan nikotinnya yang berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi generasi muda.
"Di luar negeri, garam dan gula saja ditanggulangi. Karena nikotin sangat berbahaya, dan sekarang targetnya anak muda dan ibu-ibu yang bisa menyebabkan lost generation," ujarnya, Jumat (12/11/2010).
Sejauh kata kata Farid Anfasa, yang menjadi perhatian Komnas Pengendalian Tembakau adalah tingkat konsumsi rokok yang tinggi di bagi kalangan ekonomi lemah dan kalangan remaja dan anak-anak.
"Kelompok rentan inilah yang menjadi perhatian Komnas Pengendalian Tembakau," tukasnya.
Dari data 2001 sampai 2007, untuk tingkat pendapatan paling rendah saja meningkat 5,6 persen. Sedangkan pendapatan paling tinggi justru menurun hingga 4 persen.
Sedangkan perokok di usia 5 sampai 9 tahun meningkat empat kali lipat dari 0,4 persen menjadi 1,9 persen. Di usia 10 - 14 tahun meningkat dari 9,5 persen menjadi 16 persen.
Abdillah Ahsan selaku Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengatakan, bahwa tingkat konsumsi secara individu di kelompok miskin mencapai 30 persen atau sekitar 12 juta orang.
Namun, bila dihitung berdasarkan dampak ke rumah tangga miskin, terdapat konsumsi rokok di 60 persen rumah tangga miskin.
"Ini berarti mencapai sekitar 24 juta orang dari kelompok ekonomi miskin yang terdampak rokok," ujarnya.
Sumber : Tribunews
Ketua Komnas Pengendalian Tembakau Farid Anfasa Moeloek, saat ditemui seusai menghadap wakil Presiden Boediono di Istana wakil Presiden mengatakan, bahwa pengendalian tembakau sangat penting dikarenakan ada kandungan nikotinnya yang berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi generasi muda.
"Di luar negeri, garam dan gula saja ditanggulangi. Karena nikotin sangat berbahaya, dan sekarang targetnya anak muda dan ibu-ibu yang bisa menyebabkan lost generation," ujarnya, Jumat (12/11/2010).
Sejauh kata kata Farid Anfasa, yang menjadi perhatian Komnas Pengendalian Tembakau adalah tingkat konsumsi rokok yang tinggi di bagi kalangan ekonomi lemah dan kalangan remaja dan anak-anak.
"Kelompok rentan inilah yang menjadi perhatian Komnas Pengendalian Tembakau," tukasnya.
Dari data 2001 sampai 2007, untuk tingkat pendapatan paling rendah saja meningkat 5,6 persen. Sedangkan pendapatan paling tinggi justru menurun hingga 4 persen.
Sedangkan perokok di usia 5 sampai 9 tahun meningkat empat kali lipat dari 0,4 persen menjadi 1,9 persen. Di usia 10 - 14 tahun meningkat dari 9,5 persen menjadi 16 persen.
Abdillah Ahsan selaku Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengatakan, bahwa tingkat konsumsi secara individu di kelompok miskin mencapai 30 persen atau sekitar 12 juta orang.
Namun, bila dihitung berdasarkan dampak ke rumah tangga miskin, terdapat konsumsi rokok di 60 persen rumah tangga miskin.
"Ini berarti mencapai sekitar 24 juta orang dari kelompok ekonomi miskin yang terdampak rokok," ujarnya.
Sumber : Tribunews